Melepaskan diri di rimba Kareumbi (1)


Bulan Januari terasa istimewa. Di bulan inilah untuk pertama kali saya merasakan pengalaman ngantor yang bener-bener di kantor. Lebih serunya lagi, kehidupan disini begitu menyenangkan. Kita masuk pukul 8.30, cukup berkaus dan jeans dilengkapi sneakers. Jika dibandingkan, lebih formal penampilan ketika ngampus daripada ketika ngantor. Selama bulan Januari dimulailah petualangan kerja baru. Tetap saja bosan mendera. Dan hasrat selalu ingin hidup bebas di alam suatu waktu. Sebagai konsekuensi diri yang seorang geograf. Selalu menginginkan dekat dengan alam.

Kebetulan suatu waktu saya lihat selebaran yang isinya mengajak kita jalan sejenak di kehidupan rimba. “Sambil Jalan” nama acaranya. Sebuah acara hiking dan camp ceria sehari semalam yang diisi dengan segenap pengetahuan hidup di alam bebas. Saya kira konsep demikian cukup sebagai media saya melepas penat seharian di kantor. Ikutlah kemudian saya kesana.



Singkat cerita, pertemuan di meeting point terjadi. Meeting point berada di Pustaka Tropis Wanadri, Jl. Batik Jonas Bandung. Saya datang pukul 7.30 pagi. Terlihat beberapa orang sudah berkumpul. Saya memang agak canggung ketika menghadapi situasi dan ‘komunitas’ baru. Tapi untungnya mereka menyapa dengan hangat yang membuat saya agak lebih cepat beradaptasi. Ditambah lagi banyaknya orang dalam yang saya kenal. Ya, ternyata yang mengkoordinir acara ini adalah segerombolan kakak kelas saya ketika SMA, Kawan lama. Kami berkelompok menuju Kareumbi. 3 angkot, 1 mini van dan 1 mobil pribadi mengantarkan kami kesana. Oya, saya juga ditakdirkan untuk berkelompok bersama seorang bule bernama Mirthe dari Utrech, Belanda.


Sesampainya disana, kami dipersilahkan dulu makan siang dan shalat. Setelah itu kami trekking menuju camp. Jaraknya dekat ternyata. Dari parkiran dan bangunan pengelola menuju camp hanya sekitar 100 meter, Cukup 5 menit. Setelah itu, serangkaian kesenangan dimulai.


Kami yang rencananya akan mendirikan tenda, malah disuguhkan dengan tempat menetap yang nyaman, sebuah rumah pohon ala Hobbit. Terdapat 5 buah rumah pohon yang mengelilingi lokasi camp. Ditambah 2 gazeboo untuk meeting point. Agenda pertama kami disana adalah materi tentang berkehidupan di alam bebas oleh sdr Nurhuda, seorang Wanadri yang berpengalaman dalam hal survival dan search & rescue di hutan. Ia menjelaskan potensi-potensi bahaya, cara menghadapi bahaya, pola pikir dari sedikit tips orientasi di hutan. Cukup membuka wawasan dan menambah perbendaharaan saya ketika suatu saat kembali turun ke lapangan.







Kemudian kami berlanjut ke materi selanjutnya yaitu menelusuri keanekaragaman hayati sekitar Kareumbi, sebuah biotrek. Saya yang lebih dulu pernah mengalami biotrek di Bodogol, Bogor kini mengalami kembali hal ini. Seperti kembali melaksanakan praktek lapangan ala Mahasiswa Geografi. Sang ahli yang menjadi narasumber adalah Pak Juandi, seorang dosen dan herbalist dari ITB. Beliau memang terlihat cekatan dan menguasai segala macam aspek soal ini. Kami berjalan menelusuri hutan itu dan menemukan berbagai macam keajaiban. Beberapa hal yang saya ingat dulu, kembali di recall saat itu juga. Beliau menjelaskan tentang toponimi sebuah tempat yang ternyata banyak berasal dari tanaman hutan, menjelaskan manfaat tanaman dan jenis-jenis tanaman hias yang sering dibudidayakan oleh masyarakat. Sungguh menyenangkan.

(continued at part 2)

No comments:

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!

Powered by Blogger.