cookieChoices = {}; nyarinama cookieChoices = {};

Highlight

Kabur ke Garut Selatan


Weekend terakhir di bulan mei ini (28-29/5) menjadi penutup berbagai perjalanan yang saya lakukan selama 1 bulan. Mulai minggu pertama (30/4 - 1/5) camping di Jayagiri, minggu kedua (7/5) yang menyambangi Gunung Padang, Cianjur. Kemudian berturut-turut ke Majalengka di minggu ketiga (14-15/5) dan minggu keempat (21-22/5) hingga akhirnya perjalanan kemarin Ke Garut Selatan.
Bulan ini jadi bulan paling padat dan paling menguras energi. Berbagai persiapan harus dilakukan. Belum lagi budget yang keluar dan kesehatan yang mesti prima. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana. Kesehatan terjaga, keuangan pun sehat tanpa menyisakan hutang.
Di weekend kelima, saya bersama beberapa kawan-kawan satu komunitas mengadakan perjalanan ke Santolo, Garut. Agenda ini merupakan agenda lanjutan setelah sebelumnya kami camping di Jayagiri. Menghabiskan hasrat penasaran kami yang ingin terus berlibur bersama, akhirnya diputuskan bahwa destinasi selanjutnya adalah pantai santolo. Kemudian kami mengajak beberapa teman yang kebetulan bisa meluangkan waktu untuk ikut bersama kami.
Rombongan menuju rumah transit di Cikajang

Hari H pun tiba, sebanyak 23 orang ikut rombongan ‘Piknik Ceria’ yang terbagi dalam 3 mobil pribadi. Kami bekumpul jam 8 malam dan mengecek kelengkapan. Sesudahnya kami berdoa dan mulai berangkat. Jam 12 tengah malam kami tiba di Cikajang, Garut untuk beristirahat sejenak di rumah saudara salahsatu teman kami. Kami tertidur pulas karena hawa dingin yang menyelimuti. Tiba-tiba saja salahsatu teman kami berteriak di kegelapan malam dalam suasana yang hening. Semua orang terkejut, Akupun lantas bangun dan bertanya-tanya, suara siapa ini. Ternyata orangnya tepat berada di sampingku.
Suasana dalam rumah transit

Suaranya memekikkan telinga. Kami terbangun dan mulai memperhatikannya. Eh beberapa menit kemudian ia cengengesan dalam tidurnya. Tertawa cengengesan berulang kali. Hingga kami mulai ketakutan dan mencoba menerka ada apa dengan dia. Apakah dia kerasukan? Atau hanya mengigau saja. Aku sudah bersiap dengan sebotol air mineral yang akan kutumpahkan manakala situasi tidak terkendali. Cengengesannya tidak berhenti, malah ia mengucap kata-kata “eheee.. hehe.. kalian lucu..” sontak kamipun mulai parno. Takut ia kerasukan. Tapi aku memberanikan diri untuk mencolek dan membangunkan dia. Ia tersadar dengan badan yang digulingkan berkali-kali ke kanan dan kiri. Aku mengetes kesadaran dengan bertanya.. “Rei.. (namanya), sadar.. bangunn” matanya terbuka dan melihat sekeliling. “Emmm... iya..” jawabnya. Aku bertanya lagi, “dimana ini..?”, ia menjawab “di Lembang... eh Garut..” ternyata kesadarannya pulih. Kami sedikit lega dan mulai tertidur kembali. Pagi harinya kami interogasi dia dengan beberapa pertanyaan. Ternyata dia bermimpi jatuh dari tebing dan ketika setengah sadar, ia mendengar sayup-sayup suara kami menertawakan dia (tertawa berbalut rasa takut) sehingga ia ikut tertawa.
Berfoto sebelum melanjutkan perjalanan

Singkat cerita, kami berkemas jam 10 pagi dan melanjutkan perjalanan menuju pantai Garut Selatan. Di perjalanan, mobil yang kami tumpangi sesekali berhenti karena ada penumpang yang mabok. Begitupun dengan mobil yang lain yang ikut berhenti dan jajan sesekali. Perjalanan memang bikin pusing. Berkelok-kelok dengan jalan yang kecil agak bergelombang. Membuat mata pusing yang efeknya jadi mual. Bahkan ketika saya menuliskan kalimat tadi, saya merasakan kembali pusingnya ketika di mobil. Luar biasa.
Tiba di Garut Selatan

Groufie Asik

Kami tiba di Pantai Karangpapak sekitar jam 12 siang. Kami menaruh barang-barang dan sedikit istirahat. Beberapa sudah tidak sabar melihat pantai. Wajar saja, pantai berada tepat di depan penginapan kami. Ombaknya terdengar jelas dan anginnya memberikan kesejukkan. Saya segera berganti dengan celana pendek. Saya bersegera ke pantai dan tanpa pikir panjang, sengaja membasahi diri dengan air. Setelah beberapa menit, kamipun kembali ke penginapan. Sesi berenang yang sesungguhnya akan dilakukan sore hari nanti. Saya membasuh badan dan tertidur karena angin sepoi-sepoi dari pantai. Setelah waktunya tiba, kami semua berangkat ke pantai untuk berenang. Pantai yang kami tuju agak lebih jauh dari pantai depan penginapan. Kami berjalan sekitar 1km menyusuri pantai. Pantai disana adalah pantai berkarang dengan pasir kuning. Setelah berjalan jauh, Kami tidak menemukan spot yang kami mau, sepanjang perjalanan hanya karang tajam yang kami temui. Akhirnya kami berjalan pulang. Di tengah perjalanan pulang, kami mengamati kembali bahwa terdapat spot-spot yang bisa kami tempati. Ada beberapa wisatawan yang mandi dengan asyik ddi sekitar karang. Ternyata ada karang yang bolong dan airnya lebih dalam. Pijakannya pasir pantai yang halus. Kamipun mencoba menceburkan diri disana. Ternyata seru. Seperti ada kolam di pinggir pantai. Sekelilingnya karang dengan bentuk tengahnya yang berpasir. Bahkan kami melompat berkali-kali di ‘kolam’ itu. Satu per satu dari kami melompat dan kegirangan. Kami menghabiskan waktu disitu hingga matahari mulai tergelincir. Setelahnya, kami kembali ke penginapan.
Mulai bermain di pantai

Pose ala-ala artis instagram

Berenang di kolam karang


Malam hari kami mulai letih. Meskipun ada beberapa yang masih berdendang dan mengobrol, ada beberapa yang tertidur karena capek dan lapar. Kemudian kami putuskan untuk mencari makan di sekitar situ. Kami berangkat dengan mobil sambil melihat keadan sekitar. Siapa tau ada tempat nongkrong yang asik. Lalu kami dapati sebuah rumah makan besar. Tadinya kita pikir bisa mendapatkan menu ikan yang lengkap nan lezat. Atau bepikir kita bisa bakar-bakar ikan di sekitar penginapan. Tapi ternyata menu yang kami santap Cuma seputar ayam goreng. Yaah..
Suasana sesi curhat

Selepas dari makan malam bersama, kami menggelar sesi curhat dan kesan pesan selama perjalanan piknik itu. Semua orang berbicara diiringi gelak tawa dan kegembiraan. Ada juga yang begitu cinta dan merasa memiliki ikatan kuat terhadap pertemanan kita. Semua merasakan hal yang sama. Begitupun saya yang rela ikut dan menghabiskan waktu bersama mereka larut dalam kegembiraan. Akhirnya saya punya teman jalan yang asik.
Benteng Karang di Pantai Santolo

Keceriaan dan kebersamaan

Esok harinya tak ada kegiatan berarti. Kami bergegas merapikan tas dan berangkat menuju bandung. Seperti biasa, akhir kegiatan diisi dengan foto-foto. Jam 10 kami juga menyempatkan untuk mampir ke Pantai Santolo. Pantai yang memang diperuntukkan sebagai pantai wisata, lengkap dengan berbagai fasilitasnya. Beberapa dari kami berjalan-jalan menyusuri sekitar, ada juga yang menyeberang ke pulau untuk berfoto. Semuanya diisi dengan kegiatan ringan. Selepas itu kami pulang. Walaupun diisi dengan beberapa insiden mabok, berkali-kali rehat, tapi semuanya lancar. Aman terkendali. Kami tiba di Bandung jam 8 malam dan tidur dengan membawa mimpi indah serta energi positif hasil dari liburan.

Berfoto sebelum balik Bandung


Read more »

Bukan Cuma Keindahan


Melakukan perjalanan traveling seperti menjadi keharusan hari ini. Adanya kesadaran untuk mengeksplor alam sekitar di usia muda menjadi pendorong maraknya perjalanan. Banyaknya pilihan transportasi, fasilitas akses informasi yang luas, penemuan lokasi baru dan adanya platform berbagi pengalaman perjalanan menjadi faktor mudahnya seseorang melakukan traveling.

Transportasi masa kini menjadi lebih lengkap. Lokal maupun nasional sudah tercover dengan baik. Meskipun dalam beberapa tempat masih sulit ditemui transportasi lokal, namun tidak menjadi halangan untuk bisa sampai ke lokasi traveling. Sebut saja untuk bisa menuju Pantai Ujunggenteng, kita tinggal pilih mau menggunakan transportasi pribadi atau transporasti umum. Pilihan transpotasi umum ada bus dan juga kereta. Semuanya ada. Tinggal bagaimana kita menikmati perjalanan dengan jarak yang demikian.


Di era digital seperti saat ini, informasi menjadi sangat berharga. Perjalanan kemanapun harus dibekali informasi yang memadai. Soal pilihan lokasi, rute perjalanan, to-do list hingga penginapan di tempat traveling. Semuanya dapat diakses. Rute perjalanan dapat di track lewat google maps. Lokasi-lokasi travel banyak dibagikan para penjelajah, serta pengalaman lainnya dapat dengan mudah dicari. Sehingga perjalanan kita lebih terjadwal rapi.


Dari informasi yang telah disebutkan sebelumnya, orang akan dengan mudah mencari pilihan lokasi yang diinginkan. Terkadang orang lebih memilih lokasi yang masih sepi dan asri. Maka, penemuan lokasi-lokasi baru menjadi informasi yang berharga. Misalnya saja ketika Tebing Keraton pertama kali ditemukan, orang jadinya ramai kesana dan berlomba-lomba datang se-pagi mungkin untuk menikmati sepi dan kedamaian.


Lalu mau apa di lokasi travel kita..? tentunya mengabadikan keberadaan kita disana. Berfoto dan video adalah to-do list utama. Equipmentnya beragam, dari mulai kamera ponsel pribadi, action cam semacam GoPro atau kamera SLR yang menjamin kualitas foto perjalanan. Semuanya bisa dipilih. Belum lagi platform untuk kita berbagi. Ada instagram yan jadi pusatnya keindahan panorama alam hasil bidikan sang traveler. Lebih lengkap lagi jika kita ceritakan melalui blog. Menulis cerita perjalanan akan melengkapi memori kita. Semuanya ada untuk memuaskan dahaga kita akan cerita perjalanan.

Tapi maraknya perjalanan ini bukan berarti kelestarian akan terjaga. Justru kemudahan-kemudahan itu seringkali jadi jalan bagi orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk merusak lingkungan sekitar. Yang paling sering terjadi adalah tumpukan sampah yang berserakan di tanah. Belum lagi tumbuhan sekitar yang mati karena banyak dijamahi. Sudah banyak berita yang mengabarkan perusakan di lokasi wisata macam kasus di Yogyakarta akhir tahun 2015 lalu. Kemudian muncul sederet berita kerusakan lainnya yang bikin kita geram. Ada juga berita tentang over capacity di lokasi camp Ranu Kumbolo yang sempat jadi perhatian umum. Semuanya berawal dari kekerdilan orang menghargai alam.

Padahal inti utama dari perjalanan itu adalah bertambahnya pengalaman hidup. Lalu pengalaman hidup itu membuat kita semakin bijak dalam bertindak. Karena hanya di alam-lah, sifat kita akan bisa terungkap. Poin yang harus dipahami adalah, melakukan traveling bukan semata-mata mencari keindahan atau mengungkap lokasi baru. Bagi sebagian orang, lokasi wisata adalah lokasi dengan pemandangan terbaik. Padahal yang disebut lokasi wisata adalah lokasi yang memiliki pemandangan sekaligus informasi sehingga menambah keinginan untuk menjaganya. Jangan menjadi perusak-perusak berikutnya..
Read more »

Once upon a time in Gunung Padang


5 Mei lalu saya ditemani pasangan saya, berangkat menuju Cianjur untuk berpetualang menuju Gunung Padang. Perjalanan kami telah dirancang seminggu sebelumnya dengan googling seputar objek dan rute perjalanan. Tujuannya sih hanya jalan-jalan menikmati waktu libur panjang berdua. Meskipun sebenarnya kerjaan freelance telah menanti sepulangnya kami dari sana.

Jadi kami bertemu sekitar pukul 10 pagi hari Kamis, kemudian mempersiapkan segala keperluan kesana. Berangkat pukul 11 siang dan mulai mengahadapi jalanan Cimahi yang padat. Maklum minggu kemarin sedang libur panjang, jadi semua orang keluar rumah untuk piknik. Kami kemudian sampai di Ciranjang pukul 12 siang. Kami berhenti sejenak dan melaksanakan shalat dzuhur.

Selepas itu, kami lanjutkan perjalanan hingga memasuki kota Cianjur. Dari perempatan terminal Rawabango, kami belok kiri menuju ke terminal Pasirhayam. Setelah itu, kami berhenti lagi sejenak untuk mengisi perut sebelum terlalu jauh melangkah. Lanjutan perjalanan agak lebih cepat karena jalan lengang dan kami memburu waktu karena sudah ngaret dari waktu perkiraan pukul 13.00 ketibaan disana.


Tiba di Warungkondang, kami lanjutkan perjalanan menyusuri jalanan Desa yang kecil dan berbukit-bukit. Perjalanan cukup asik karena tidak ada hambatan yang berarti selain ngantuknya saya di motor. Hehe.. jadi berkali-kali berhenti di pinggir jalan untuk rehat. Untungnya hujan turun hanya sebentar.

Dengan bermodal hanya baca cerita perjalanan dari web, kami sampai dengan selamat di Gunung Padang. Insting naluriah plus persiapan yang matang jadi andalan ketika bepergian ke tempat yang belum pernah kita kunjungi sama sekali. Kita mesti tau benar rute jalan terbaik, tempat-tempat transit, biaya perjalanan, tempat menginap (jika diperlukan) dan info seputar hal yang bisa dilakukan di lokasi wisata. Cianjur sebenarnya sudah tidak asing lagi dengan saya, beberapa kali kesini untuk main. Tapi untuk mencapai ke Gunung Padang, it’s a new thing.




Disana kami menaiki anak tangga batu dengan rute yang paling sulit. Hampir 90 derajat. Di Gunung Padang, kami melihat-lihat batuan yang berserakan sembari sesekali saya mengingat informasi mengenai sejarah tempat ini. Gunung Padang merupakan salahsatu situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha.


Letaknya di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka. Menurut para ahi purbakala Indonesia, gunung Padang juga dibangun sekitar 5200 Sebelum Masehi, lebih tua dari Piramida Giza Mesir yang dibangun 2500 Sebelum Masehi. Melihat penampakannya sih ya gitu-gitu aja. Batu-batu berserakan dengan aura yang kuat. Makanya ketika kesana, disarankan untuk ditemani guide lokal supaya ada nilai lebih dari perjalanan kalian. Tiket masuk yang kami tahu hanya 2000 rupiah. Tapi ketika kesana, sedang ada pagelaran dan diumumkan bahwa setiap hari libur, tiket masuk lokasi gratis. Great.. Kami istirahat, berfoto dan menikmati pemandangan. Yang kurang dari lokasi ini Cuma papan pengumuman atau informasi. Supaya wisatawan bisa baca sendiri tanpa ditemani guide. Selebihnya, lokasi ini cocok buat petualang minat khusus pada sejarah, arkeologi, geografi dan antropologi.



Kami shalat Ashar di mushola dekat situ dan pulang dengan segera sebelum matahari gelap. Benar saja, kami sampai di Warungkondang beberapa menit sebelum senja tiba. Kami lanjutkan perjalanan sembari membeli makan malam di Warung Nasi Alam Sunda yang letaknya di jalanan bypass Kota Cianjur. Setelah itu, kami kebut tunggangan untuk sampai ke Bandung dengan segera sebelum jam 9 malam. 
Read more »

Dalam Pangkuan Jayagiri


Sabtu-Minggu di akhir April kemarin saya bersama rekan lainnya dari Earth Hour Bandung menyempatkan diri untuk hiking ke Jayagiri. Agenda ini cukup dadakan karena pada awalnya tujuan hiking adalah ke Kareumbi. Sebuah hutan lindung tempat konservasi beberapa jenis tanaman dan penangkaran rusa di selatan Bandung. Perjalanan hiking ini dimaksudkan untuk memperingati hari bumi 2016 yang jatuh pada tanggal 22 April. Tak seperti Earth Hour di kota lain, EH Bandung menginginkan kegiatan intern yang akrab dalam peringatannya. Jadilah hiking ini terlaksana.


Jayagiri bukanlah tempat asing bagi saya. 2010 yang lalu saya sudah berkenalan dengan tempat ini. saat itu saya pergi kesana untuk mengikuti PPLG (Program Pengenalan Lingkungan Geografi) atau ospek jurusan. Perjalanan hiking saat itu terasa jauh. Apalagi dengan beban dan tekanan dari senior yang melaksanakan ospek. Perjalanan sekitar 1 jam dilalui dari pintu masuk menuju tempat perkemahan. Cerita tentang Jayagiri 2010 bisa dibaca disini (Part 1, Part 2, Part 3, Part 4)


Tahun 2015 lalu, saya mengajak beberapa siswa SMAN 11 Bandung untuk hiking kesana. Walaupun agak-agak lupa jalur hiking, tapi akhirnya kami sampai. Sayangnya kami tidak melanjutkan ke puncak Jayagiri karena hari sudah siang. Sore harinya saya harus kembali membawa mereka pulang ke rumah.


Tahun 2016 ini saya kembali berkunjung ke Jayagiri dengan rekan yang berbeda tapi dengan perasaan yang masih sama. Sendu melagu.. sebuah perasaan yang kangen dan menyenangkan. Menyegarkan ingatan dan menghangatkan hati. Entah kenapa Jayagiri terasa begitu dekat. Saya berangkat menuju Jayagiri jam 6 sore ditemani hujan deras. Hingga akhirnya tiba di pintu gerbang sekitar jam 8. Teman-teman (7 orang) menunggu saya selagi hujan. Dan kamipun mulai berjalan kaki setelah hujan reda. Perjalanan dari pintu gerbang menuju tempat camping memakan waktu 2 jam 15 menit dikarenakan jalan yang licin yang sesekali gerimis dan beberapa teman saya kewalahan dengan jalurnya. Singkat cerita, kamipun sampai di camping ground Jayagiri. Sebelumnya, telah ada teman kami yang lain yang telah sampai di tempat camping dan membawa peralatan tenda. Jadi kami tak perlu mendirikan tenda repot-repot. Sesampainya disana, kami beristirahat dan makan malam.


Maksud hati ingin membuat api unggun, namun apa daya, kayu bakar yang dipakai dalam keadaan lembab sehingga sulit terbakar. Kami sudah coba dengan spirtus dan bensin, tetap sulit menyala. Namun dengan telaten, kami jaga bara api kecil dan membakar sampah-sampah kertas juga plastik untuk mempercepat pembakaran kayu. Akhirnya nyala dengan sempurna dan dapat menghangatkan malam kami.


Untuk mengisi malam, kami memainkan mind game ‘Werewolf’ yang sedang menjadi tren akhir-akhir ini. berbekal kartu remi, kami memainkan karakter-karakter dalam werewolf dengan rian gembira. Saya ketika itu memilih untuk menonton dan tertidur di hammock yang dipasang di sekeliling api unggun. Karena keasyikan, permainan berlangsung alot dan menengangkan hingga akhir. Sensasi menuduh orang yang tak bersalah menjadi bumbu dalam permainan ini. Apalagi dibarengi analisis mengenai siapa werewolf sebenarnya dan konspirasi para werewolf menjadikan kita sebagai penonton ikut merasa geram. Permainan ini luar biasa mencuci otak loh. Sampai-sampai muncul kedengkian dan rasa tidak percaya pada teman. Tapi itu hanya permainan, diluar itu, semua masih tetap aman terkendali. Tak ada pertumpahan darah terjadi. Hingga kamipun harus istirahat jam 3 pagi dan tertidur lelap.



Pagi harinya kami bangun jam 6 pagi. Beberapa dari kami bangun lebih pagi demi mengejar sunrise di sisi timur. Tapi ternyata kabut menggerayangi pagi kami sehingga keadaan sekitar menjadi abu-abu. 


Sekitar jam 8 pagi, teman-teman saya yang lain menyusul datang. Mereka kebetulan tak bisa mengikuti camping dikarenakan kesibukan. Akhirnya kami menjadi lebih banyak. Sudah dapat ditebak apa yang kami lakukan setelah itu, main werewolf lagi..! main dan main terus, tuduh menuduh terus, mati dan dimakan terus, begitu terus hingga seterusnya dan kami lelah dengan kebohongan, jam 12.30 siang kami mengakhiri pergulatan itu dan mengepak barang-barang untuk pulang. Kami menyusuri kembali jalur trek (14.00) dengan pergerakan lebih cepat dan sampai di bawah jam 3 sore. Saya harap dapat kembali berkunjung kesana di lain kesempatan.. tunggu saya, Jayagiri..!
Read more »

Kerelatifan, Kesuksesan dan Inspirasi



Sabtu, 23 April lalu saya bertemu kembali dengan siswa didik semasa PPL di SMAN 11 Bandung dahulu. Sebelumnya, kami memang sering bertemu dan jalan-jalan bareng. Tahura, Jayagiri dan Garden Stone pernah kita sambangi bersama. Namun karena kesibukan masing-masing, kami belum sempat bertemu kembali. Nah, pertemuan kemarin terjadi karena mereka membutuhkan bantuan untuk tugas bahasa sunda. Jadi tugasnya adalah mencari seseorang yang menjadi inspirasi bagi orang banyak. Kebetulan mereka memilih saya.

Bangga sih bisa dikontak dan diwawancarai secara sederhana tentang kisah saya. Tapi membuat saya bertanya pada diri sendiri. Apakah memang saya sukses dan bisa menginspirasi orang..? apakah karya saya memang baik dan dapat diakui? well, saya tidak bisa menjawabnya. Semuanya relatif pada sudut pandang seperti apa. Saya jadi kepo dan melihat-lihat linimasa teman saya, adik kelas maupun kolega yang lebih sukses daripada saya. Ternyata masih belom ada apa-apanya.

Saya jadi merasa harus bertanggungjawab atas apa yang saya katakan dalam wawancara itu. Meskipun semua yang saya katakan terjamin kebenarannya. Wawancara tersebut jadi cerminan dan tolok ukur kembali nilai kesuksesan. Saya harus merendahkan hati dan berusaha tidak puas atas apa yang telah dilakukan. Memang masih jauh dari nilai-nilai kesuksesan yang telah diraih orang lain. Terlebih pada usia seperti saya. Tapi saya berpendapat bahwa kesuksesan bukanlah tujuan. Kesuksesan bukanlah hasil. Melainkan proses-proses, sikap dan nilai yang dianut untuk terus diamalkan sehingga kita jadi lebih baik. Sejak dulu saya selalu berpegang bahwa tujuan hidup saya itu harus sukses dan berguna (successfull and usefull). Apakah keduanya itu?


Sukses seperti yang sudah dijelaskan, adalah proses, sikap dan nilai yang kita anut. Tentunya ada banyak variabel yang terkandung dalam kesuksesan itu. Entah itu dari kemapanan finansial, banyaknya relasi, pengalaman dalam suatu bidang, sifat-sifat baik dalam diri, dan banyak hal lain. Salahsatu yang penting tentu kemapanan finansial. Bukan hanya soal berapa banyak menghasilkan uang, tapi bagaimana mengelola keuangan yang kita dapat seefektif mungkin. Jika seseorang sudah mampu mengendalikan finansialnya, maka ia sukses. Dalam poin ini, saya belum sukses. Hehe.. soal banyaknya relasi, cukuplah. Selalu saja ada orang baru dalam hidup, pengalaman baru, project baru dan prospek-prospek baru sehingga kehidupan jadi dinamis. Asal ada keyakinan dalam diri. Kadangkala justru saya tidak yakin pada rezeki yang diberikan. Selalu ada kekhawatiran. Padahal Allah selalu memberi lebih dari yang saya kira. Dari poin inipun, saya belum sukses. Soal pengalaman dalam bidang yang saya geluti, saya masih perlu banyak belajar dan jauh dari kata ahli. Terlebih lagi saya bergulat dalam dunia kreatif yang margin keahliannya sangat bervariasi. Saya hanya mengandalkan sikap positif dalam diri, bahwa kita yakin dapat meraih tujuan dengan keyakinan dan kerja keras. Agak klise sih, tapi memang itu.. sudah saya buktikan sendiri. Jadi orang aneh jurusan pendidikan yang berkarier di dunia desain grafis.

Kebermanfaatan adalah prioritas. Kalaupun kita belum memiliki sifat sukses, maka yang satu ini mau tidak mau harus bisa kita lakukan. Tanpa harus mempunyai keahlian khusus, hidup kita harus bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dalam hal ini, saya usahakan untuk selalu bantu, selalu ada dan selalu care. Membantu orang atau bermanfaat bagi orang memiliki nilai kebahagiaan yang tinggi. Sehingga menularkan kebahagiaan lain pada orang yang kita bantu. Dari sinilah pahala dan rezeki kita mengalir.

Ternyata aksi reaksi pasca wawancara itu membuat saya kembali berpikir, saya memang belum cukup sukses dan menginspirasi. Tetap harus terus berubah, berkarya dan mencapai target-target baru dalam hidup. Menurut kalian setelah melihat paparan diatas, apakah saya cukup sukses dan menginspirasi bagi orang lain..?
Read more »

Salah Beli dan Budaya Populis


Senin, 4 April seperti biasa saya berangkat kerja. Sebelum memulai semuanya, biasanya saya menyempatkan diri membuka email dan beberapa sosial media. Tak lupa membuka video-video untuk menambah semangat bekerja (walau malah efeknya jadi keenakan nonton video :D). Tiba-tiba beranda youtube telah penuh dengan video trend “Salah Beli”. Usut punya usut, ternyata itu adalah ‘kasus’ youtuber Laurentius Rando yang menjual keyboard pemberian fansnya melalui mailtime. Waah.. hebohlah dunia maya. Kisahnya silahkan diikuti di youtube maupun blog-blog lain.

Sebelumnya, saya beri introduksi dulu. Trend masa kini telah berubah dari media hiburan mainstream menjadi self-publication yang didukung oleh platform youtube. Youtube yang membuka ruang bagi orang-orang diluar sana untuk berkarya dan menampilkan proses karya di belakang layar melalui vlog (video blogging). Makin hari, makin banyak orang yang membuat vlog dengan berbagai macam latar. Dari mulai youtuber yang sudah mapan macam Tim2One, Raditya Dika, Bayu Skak, Arief Muhammad (@poconggg) hingga yang terbaru adalah Kemal Palevi (Stand Up Comedian) dan Wahyu Aditya (Praktisi Desain dan Animasi). Ada juga vlog bule yang tinggal di Indonesia macam Sacha Stevenson dan Martin Johnson. Semuanya membuat video keseharian mereka, video parodi dan karya lainnya.

Kembali ke masalah Rando. Jika ada yang belum mengenal dia, ya wajar. Mungkin tidak begitu banyak terekspos media. Rando (a.k.a Gazelle Cross) adalah seorang beatboxer jebolan Indonesia’s Got Talent yang masuk semifinal. Selepas itu, ia mulai berkarier dan mendirikan sekolah beatbox. Ia mempunyai channel youtube yang lumayan banyak fansnya. Salahsatu yang mungkin jadi daya tariknya adalah idealisme dan gayanya yang slengean. Ia dipandang cukup dengan dengan fansnya apalagi dengan salahsatu tayangan utama di youtubenya bertajuk mailtime. Dalam video-video mailtime, ia membuka hadiah pemberian fans yang beragam macamnya. Dari mulai coretan tangan, handcraft, action figure, gadget, dan fashion item macam kaos, celana dll. 

gambar dari sini

Dalam salahsatu videonya di bulan maret, ia mendapatkan keyboard mahal oleh fansnya yang kira-kira seharga 2 juta. Tapi pada akhir maret, muncul postingan di kaskus yang menyatakan bahwa rando berniat menjual keyboardnya dengan alasan salah beli. Postingan tersebut seketika menjadi booming di internet. Semua bentuk sosmed membahas kelakuan rando. Mungkin masalah itu dapat diatasi dengan meminta maaf. Namun hal yang lebih parah lagi, tersebar rekaman dan screenshoot percakapan rando dengan anggota beatboxnesia (komunitas yang ia dirikan). Rekaman itu bernada kasar dan menggurui (bossy). Isinya adalah dendam pribadi atas beberapa komunitas beatbox serupa yang mencoba menyaingi kepopuleran beatboxnesia.

gambar dari sini

Keberadaan youtube memberi kita pilihan konten seperti apa yang akan kita tonton. Apakah itu musik, review film, video tutorial atau menonton sekelumit cerita dibalik layar ala vlog. Austin Kleon dalam buku “Show Your Work” mengatakan bahwa salahsatu cara agar kreatifitas kita tersebar dan mendapatkan perhatian umum adalah dengan cara memperlihatkan proses dibelakang layar dan membagikan hal-hal kecil sehari-hari. Persis yang bisa kita lakukan melalui vlog.


Namun adanya vlog bisa jadi bumerang juga, ketika kita ditunggangi oleh keinginan populer dengan instan. Melakukan segala cara bahkan menjatuhkan orang lain bisa jadi dilakukan untuk mendapatkan simpati. Layak diperhatikan bahwa kita perlu punya karya sebelum dapat berbicara dan memberikan influence pada banyak orang. Dengan karya, suara kita akan jelas terdengar. Bukan hanya dengan kata-kata dan idealisme. Menjadi populer diantara yang lainnya memang menyenangkan, namun tidak layak rasanya jika seseorang menahbiskan sendiri ketenarannya. Banyak sesumbar dan sombong. Banyaknya media juga mendorong kita haus akan pujian dan pengakuan. Bangga dengan followers, likers dan fans yang banyak. Tapi inti menjadi ‘populer’ tidaklah serendah itu. Populer berarti memberikan manfaat sebanyak-banyaknya pada orang lain, membangun pandangan positif dan berkarya dengan passionnya. Jadi masih mau mengejar popularitas..?
Read more »

Menahan diri


Ada banyak kebebasan yang dituntut dan ingin dimiliki oleh kita. Kebebasan berpendapat, kebebasan bertindak, kebebasan menentukan pilihan dan kebebasan berpikir. Semuanya serba ingin bebas. Sedikit saja terganggu, maka keluar kata-kata “gak usah ikut campur urusan gue”, “jangan sok ngatur”. Yah, ada banyak kebebasan yang menerobos hak-hak orang lain. Ketika semuanya saling bertabrakan, maka timbul kecelakaan. Seperti halnya sebuah persimpangan yang padat. Ketika semua kendaraan ingin bergerak bersamaan, maka akan macet, ruwet, bahkan saling bertabrakan. Itulah gunanya menahan diri.

Pada hakikatnya, tidak ada kebebasan yang benar-benar bebas. Karena semuanya bukan milik kita, maka kita tidak berhak menentukan aturan. Tuhan lah yang berhak menentukan aturan. Dan Ia maha bebas dalam menentukan pilihan hambaNya. Bebas, sebenarnya tetap memiliki batas, sekecil apapun itu layaknya atmosfir yang kita kira sangat tebal dan luas. Tapi ketika kita terus menembusnya, maka kita akan berhadapan dengan batas luar atmosfir, dan menemukan resiko yang bahaya saat melewati batas.


Maka berpendapatlah seperlunya. Ungkapkan apa yang kalian rasakan. Jika orang lain tak bisa menerima, tak usah dipaksakan. Tak baik juga banyak bicara yang isinya semua keinginan kita. Perlu ada keinginan orang lain yang ikut dan menjadi keinginan bersama. Sehingga semuanya selaras.


Bertindaklah seperlunya. Tak perlu sombong dan berkuasa. Ada kuasa-kuasa lain yang lebih besar darimu. Jangan seenaknya. Karena orang lain juga mungkin berada dalam satu kondisi yang sama yang juga ingin dihargai. Merokok pada tempatnya, jauhi non perokok. Buang sampah pada tempatnya, karena lingkungan adalah milik bersama yang kita harus jaga kebersihannya. Selalu ingat, bahwa apa yang kita lakukan akan kembali kepada kita. Timbulnya bencana, kemalangan, konflik adalah bukti masih banyak orang yang tidak bisa menahan diri.


Tentukan pilihan seperlunya. Meskipun banyak pilihan tersedia, tak elok juga ketika kita berpindah-pindah pilihan ketika tidak cocok. Perlu ada komitmen dan janji bersama. Perlu ada toleransi dan saling menerima kekurangan. Sehingga pilihanmu akan terjaga meskipun banyak pilihan lain tersedia. Kebutuhan lebih utama daripada kemauan.



Berpikirlah yang baik dan fokus. Meskipun pikiran adalah rahasia pribadi, tapi pilihan-pilihan hasil berpikir, akan menentukan kehidupanmu. Pilihan untuk memprioritaskan sesuatu yang penting diatas foya-foya, pilihan untuk menghemat demi mencukupi kebutuhan, dan pilihan tujuan hidup yang perlu konsisten. Saya sendiri masih harus berjuang dalam pilihan dan pikiran yang fokus dalam hidup. Menahan diri atas pikiran-pikiran yang tidak tentu arah. Jadi apakah kamu sudah menahan diri..? 
Read more »

Mengenali Dalam Diri



Petang hari kemarin (15/3) sepulang kerja saya beranjak dari kantor menuju Kompleks Sukahaji Permai, Bandung. Dalam kondisi hujan dan remang-remang, sesosok laki-laki menghampiri saya. Wajahnya garang sawo matang dengan rambut pendek dan cincin akik di jarinya. Saya agak waspada karena sudah 3 kali menghadapi situasi kriminal macam pencopetan dan penjambretan di Bandung dalam setahun terakhir ini. ia berbicara,

“Saya kesasar daritadi muter-muter. Mau ke Grand Tjokro. Tau gak jalannya..?”

saya agak menjaga jarak siapa tau di hipnotis atau di begal. Namun untungnya keadaan jalan agak ramai mengingat ada persimpangan jalan disitu. Saya pun menjawab,

“Oh, dari sini lurus ke arah sana (utara), naik angkot kalapa-ledeng. Nanti di Setiabudhi bawah, turun trus muter balik. Nanti naek angkota kalapa-ledeng lagi menuju Cihampelas. Soalnya ini kan satu jalur, kesana juga satu jalur” begitu jelasnya aku jawab.

Setelah beberapa percakapan dan hujan mendera makin deras, maka saya pun ajak dia untuk naik angkutan umum yang sama. Kebetulan kami satu arah. Rupanya ia hendak mencari kerja di Bandung menjadi security, ia dikenalkan dengan makelar penyalur kerja dan sudah setor mahar 1 juta untuk diterima kerja, namun ternyata ditipu. Dengan niat baik dan pertolongan saya, ia pun semakin respect dan berlaku layaknya orang biasa. Tak seperti dugaan awal saya yang mengira ia adalah pembegal.

Begitu mudahnya kita memberi penilaian pada orang ketika bertemu, padahal mungkin saja pandangan kita salah. Maka itu lahirlah pepatah yang mengatakan don’t judge book by its cover. Benar sekali. Toh orang yang penampilannya rapi layaknya mahasiswa, sempat saya pergoki mencopet dompet ibu-ibu di angkot. Beda lagi dengan beberapa teman yang memang mukanya sangar, tapi baik hatinya. Lebih elok lagi jika kita mau mengenali dalam diri kita, siapakah kita? Dan penilaian apa yang kita dapatkan ketika orang lain melihat cover kita? Apakah kita layak dicurigai seperti seorang kriminal? Apakah kita dinilai sebagai playboy? Atau muka ngenes yang layak dikasihani? Sepertinya perlu kita gali penilaian orang terhadap kita.

Ini juga terjadi pada saya. Setiap kali dikenalkan pada forum baru, misalnya saja perkenalan dengan relawan baru di Earth Hour Bandung. Saya sering dianggap sebagai orang yang kaku, tegas, jutek dan cuek. Padahal ketika sudah kenal dekat, saya malah bisa menjadi orang yang sangat ramah, pemerhati dan cukup menggemaskan (ini geli sih..).


Jadi mari kita pikirkan, apakah penilaian orang lain terhadap kita itu baik..? dan apakah penting kita memikirkan penilaian orang? Saya rasa cukup penting. Mengingat kita mahkluk sosial yang pada dasarnya ingin diakui keberadaanya. Maka sebelum pengakuan, dibutuhkan penilaian. Dan penilaian membutuhkan kedekatan. Mari kita mengenali dalam diri..
Read more »

Lagu lama


Akhir-akhir ini saya sering memutar playlist dengan lagu-lagu jaman 90an dan awal 2000an. Band-band seperti Peterpan (sekarang Noah), Dewa 19, Sheila on 7, Five Minutes, Samsons dan lainnya adalah deretan band terkenal pada jamannya. Kebiasaan memutar lagu itu kadang berulang pada waktu-waktu tertentu. Ketika lagu-lagu baru sudah mulai bosan didengarkan, kadang kita sering berbalik pada lagu lama yang sebenarnya biasa namun memberi makna lebih. Meskipun terkadang liriknya tak sejalan dengan hati, namun irama-irama khasnya mengalun mengingatkan momen tak terlupakan di masa lalu.

Kelebihan lagu lama terletak pada kenangan dan momen yang lebih melekat kuat dalam ingatan ketimbang lagu baru. Ketika saya coba mencari video klip dari lagu lama tersebut, banyak yang diupload tidak oleh studio rekamnya. Kualitas gambarnya pun lebih buruk. Gaya dan fashion pemain band pada saat itu juga mengingatkan kita ketika dulu melihat mereka. Gaya apapun akan terlihat cocok pada jamannya, padahal di masa mendatang, mungkin kita menertawakan hal itu.

Lagu lama juga bisa berarti kebiasaan lama yang kembali berulang dan menjadi candu. Seperti rasa malas yang sering hinggap. Rasa malas yang terus menerus ada, menjadi lagu lama dalam perjalanan hidup saya. Inkonsistensi juga menjadi lagu lama dalam diri. Sering bersemangat pada awal melakukan sesuatu, namun akhirnya padam dan pesimis. Lagu-lagu lama inilah yang justru harus segera dibuang dan digantikan oleh lagu baru. Lagu yang lebih rapi susunan nadanya, lagu yang lebih dalam liriknya dan lagu yang mempunyai alunan yang menghanyutkan kita.


Jadi maukah kamu kembali mengingat lagu-lagu lama favoritmu..? tapi ingat jangan bawa kebiasaan yang jadi lagu lamamu ke masa sekarang..
Read more »

Atribut


Dalam sebuah kelompok, atribut memegang peranan cukup penting untuk mengidentikkan diri sebagai anggota kelompok. Selain itu, atribut dipakai sebagai alat pemersatu yang fungsinya jauh lebih besar dari hanya bentuk fisik sebuah produk. Sebut saja sebuah kemeja lapangan ketika saya kuliah. Dengan memakai kemeja tersebut, saya serasa menjadi bagian utuh dari angkatan. Dengan memakainya, saya menjadi pede dan merasa sama dengan kawan lainnya di angkatan. Ada lagi kaos hitam dengan logo 60+ yang ikonik milik Earth Hour. 

Ketika pertama kali ingin bergabung, atribut itulah yang selalu saya idam-idamkan untuk dipakai. Atribut berupa kaos sudah lebih dari cukup untuk membuat relawan-relawan merasa menjadi bagian dalam gerakan. Namun seharusnya motivasi untuk memulai gerakan, bukanlah dari atribut itu. Motivasi terbesar harus lahir dari kegelisahan dan kekurangan yang kita rasakan yang terjadi di sekitar kita. Ketika kita melihat ada yang tidak beres, ada rasa gundah dan kesal kenapa hal itu terjadi. Kenapa kita tidak bisa berbuat untuk mengatasi masalah itu.

Atribut adalah bentuk penghargaan atas kinerja yang telah diberikan untuk sebuah institusi maupun komunitas. Komunitas tak bisa memberikan apapun secara langsung. Tidak akan bisa. Kita-lah sebagai bagian dan ruh dari komunitas itu yang membangun diri dan membuat gerakan. Kita lah dalang dibalik nama besar komunitas. Dan sebuah atribut tidak mewakili seluruh jerih payah kita. Tapi kebahagiaan dan rasa puas dalam diri adalah bayaran yang sangat besar atas apa yang kita perjuangkan.


Begitupun atribut dalam diri. Berupa raut wajah, sikap, nada bicara dan segenap bentuk fisik lainnya bukanlah acuan untuk melihat dalam diri. Hati dan pikirannlah yang membangun atribut itu untuk dapat menggerakkan fisik. Jangan mellihat atribut, karena kita seringkali tertipu. Butuh pendekatan yang dalam sehingga ia dapat membuka atributnya satu per satu hingga dapat melihat hatinya secara utuh. Dibalik atribut yang rapi dan bersih, mungkin terdapat hati yang rapuh. Dalam atribut yang baik dan terang bederang, mungkin terdapat setitik nila dan sebuah sudut gelap yang menunggu untuk diterangi. Coba lihat atributku, apakah kalian dapat menerka isi didalamnya..?
Read more »