cookieChoices = {}; nyarinama: Once upon a time in Malaysia (5) cookieChoices = {};

Once upon a time in Malaysia (5)


Dua hari sebelumnya saya diantar nenek Jainah untuk membeli tiket kereta menuju Kuala Lumpur, namun lupa diceritakan. Akhirnya pada jumat pagi jam 5, saya berpamitan dan meninggalkan kota Tampin sekaligus keluarga Nenek disana. Saya menuju kisah baru di Kuala Lumpur bersama kakek Zainudin.

Kereta apinya tak lebih baik dari di Indonesia. Interior apalagi kenampakan luarnya sama seperti di kita. Hanya saja kedisiplinannya beda. Walaupun sederhana tapi di dalam kereta terlihat rapi. Tanpa orang lalu lalang berjualan dan tanpa sampah. Penumpang pun rapi dan tak memaksakan untuk berdiri. Itulah hal mendasar tentang kita dan Malaysia. Mental.. ada yang bilang bahwa bangsa kita hanya pandai membuat sesuatu, tapi tak bisa merawatnya. Itu memang benar adanya.. apapun selalu mudah rusak dan tak bisa dipelihara dengan baik. Mental perusak sungguh ada pada diri kita..


Pukul 7 lebih sekian menit saya sampai di KL Center. Sebuah stasiun pusat kereta dan perhubungan darat di Malaysia. Kenampakannya seperti Bandara, luas dan ramai. Dalam stasiun itu kita bisa pergi kemana saja di Kuala Lumpur. Ada kereta komuter, ada MRT dan ada kereta biasa. Untuk moda transportasi lain, ada bus dan taksi yang bisa mengantarkan kita ke tujuan. Sebelum bertemu dengan kakek Zainudin, saya hanya melihat sekeliling stasiun itu. Hal selanjutnya yang bisa kita petik adalah, arsitektur yang menandakan kemegahan dan profesionalitas pekerjaan orang Malaysia. Begitupun dengan arsitektur Bandara KLIA2 yang didesain megah. Jauh dengan kenampakan Soetta kebanggaan kita.

Setelah sekitar 1,5 jam. Saya akhirnya bertemu dengan kakek. Kami memulai petualangan dengan mengunjungi Central Market atau pasar seni. Sebuah tempat rekomendasi untuk membeli oleh-oleh khas Malaysia. Namun ternyata kakek tak begitu hafal jalan di Kuala Lumpur. Sehingga dibantu oleh anak bungsunya dengan GPS lewat smartphonenya. Akhirnya sampai di Central Market jam 9 pagi. Ternyata pasar itu baru buka jam 10. Alhasil kami mengobrol dulu di area parkir. Saya bercerita tentang pengalaman bersama Nenek Jainah di Negeri Sembilan sana, berikut dengan obrolan mengenai silsilah keluarga. Maklum saja, silsilah yang kita punya runtut hingga 7 turunan, jadi begitu banyak dan ribet. Bahkan beberapa keluarga masih belum lengkap tercantum.


Singkat cerita, jam 10 pun tiba dan kita masuk ke Central Market. Kenampakannya sama seperti banyak tempat souvenir di Indonesia. Bahkan beberapa barang seperti topeng bermotif dan batik-batik banyak dijual disana. Kalau tak teliti, bisa dapat barang yang kurang bagus. Range harganya setara dengan rupiah, seperti misalnya kaos dengan range harga 7-35 ringgit atau setara dengan 25.000-70.000 rupiah. Gantungan kunci 10 ringgit untuk 1 paket berisi 5 gantungan dan beberapa souvenir lain. Pilihan saya jatuh pada kaos khas bertuliskan Malaysia ataupun Kuala Lumpur. Kemudian saya beli gantungan kunci dan 1 benda spesial untuk pesanan seseorang.


Petualangan di Central Market berhenti jam 11 siang. Kami kemudian bertolak menuju destinasi selanjutnya di Putrajaya sekaligus menunaikan Shalat Jum’at. Perjalanan kesana cukup lumayan. 45 menit (sepertinya begitu). Putrajaya adalah kota pertumbuhan baru yang sengaja dibuat sebagai kompleks gedung pemerintahan Malaysia. Pembangunan dimulai dari 15 tahun yang lalu dan kini telah menampakkan hasilnya. Kota dengan perencanaan baik dan dikhususkan untuk pemerintahan. Setiap sudutnya bisa diabadikan untuk foto. Suguhan yang menarik bagi wisatawan yang datang. Selepas mengambil beberapa gambar di samping Masjid Besi, saya melaksanakan Shalat Jum’at di tempat yang sama. Hari begitu terik, panas terasa menyengat. Begitupun di Masjid. Di tengah-tengah ruangan ada sekitar 3 shaf yang dikhususkan untuk menempatkan kipas angin. Ini sangat ekstrim sampai-sampai menaruh kipas di tengah ruangan. Entah karena orang Malaysia tak kuat panas atau memang panasnya yang begitu terik. Perasaan di Jakarta lebih sumpek daripada ini. Tapi saya gak pernah liat di Istiqlal menaruh kipas angin di tengah ruangan. Hehe..

0 Komentar:

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!