cookieChoices = {}; nyarinama: Cerita dari Banjarmasin (3) cookieChoices = {};

Cerita dari Banjarmasin (3)


Keesokan harinya, masuklah pada agenda utama yaitu Kongres IMAHAGI ke XIII. Acara dibuka seperti biasa, sambutan dan pemilihan presidium. Kemudian acara berjalan lancar dari pembahasan ke pembahasan. Masuk pada agenda pertanggungjawaban Pengurus IMAHAGI, saya dan seluruh rengrengan Pengurus hadir ke depan forum untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan kami.

Secara khusus saya menyadari bahwa kami tidak bekerja maksimal. Banyak hal yang terbengkalai dan melenceng dari rencana awal. Banyak halangan yang terjadi. Khususnya karena jarak yang jauh dan komunikasi yang tidak lancar. Ditambah lagi dengan tidak adanya anggaran yang memadai untuk melaksanakan program (dana program dan dana akomodasi bagi pengurus). Karena saya pribadi jarang mengunjungi komisariat-komisariat yang ada karena keterbatasan dana. ya istilahnya mah bokek terus.. :(
Terutama pada program di biro saya yang mandeg bernama Swaliba. Program trade mark milik IMAHAGI ini belum bisa saya bawa lebih cemerlang. Saya masih belum melihat arah perkembangan dari program ini.

Kami diberondong beberapa pertanyaan. Beruntung forum hanya menghendaki 3 pertanyaan pada setiap biro. Kalau tidak dibatas, saya tidak tau bakal duduk berapa lama untuk mempertanggungjawabkan program kami. Masalah kemudian beralih pada keinginan regional 5 untuk memekarkan diri menjadi 2 regional baru. Sempat cekcok mengenai aturan dan mekanisme pemekaran tersebut. Karena regional 5 bersikeras ingin mendapat jawaban dari kongres malam itu.

Pertanggungjawaban selesai sekitar pukul 1 dini hari. Setelah didemisionerkan, pengurus meninggalkan kongres untuk sementara. Kami berkumpul diluar dan berdiskusi. Diskusi awalnya sih membahas hasil pertanggungjawaban, eh tapi meluber kemana-mana. Ya maklum saja, kemungkinan hari itu adalah hari terakhir kita ketemu bareng-bareng. Saya sendiri harus segera take off pukul 3 sore nanti menuju Jakarta.

Akhirnya kami tidur setelah selesai shalat Shubuh. Esok harinya kita bersiap menghadapi hari baru. Kita trip ke Pasar Terapung yang legendaris itu.. selepas shalat shubuh, kita berangkat. Sementara yang lain hanya bawa backpack saja, saya sudah lengkap dengan koper. Karena di jam 12 siang sudah harus bersiap di bandara. Pengalaman sangat seru disana, kita melihat sunrise di tepian sungai yang martapura yang besar lagi keruh. Kita naik dalam sebuah kapal motor besar melayari sungai itu. Terlihat di kanan dan kiri sungai, warga yang memulai aktifitas dengan mandi dan mencuci. Sungai itu menjadi denyut utama kehidupan warga. Disana tempat mereka mandi, cuci kakus dan tempat mereka berniaga. Harusnya transportasi dan arah pembangunan dipusatkan di sungai, namun apa daya, potensi besar itu tak tergarap dengan maksimal. Sungai sangat keruh dan warga tidak terjamin kesehatannya disana. Pasar terapung pun terancam punah karena wisatawan tidak begitu menikmati sajian pengalaman disana.

Spot tempat pasar terapung akhirnya kami jangkau dalam sekitar 1,5 jam. Karena kami datang siang, pedagang pun sudah mulai sedikit. Tapi sensasi melihat pedagang yang menghampiri masih terasa. Mereka mendekat den coba menawarkan dagangannya. Terdapat hasil-hasil perkebunan yang dijual, ada buah-buahan, sayur dan kue-kue kecil khas jajanan pasar. Wisata disana diakhiri dengan makan siang.

Saat orang-orang mulai bersiap menuju Taman Hutan Raya, saya sudah harus berpisah dengan mereka. Panitia mengingatkan untuk saya meninggalkan rombongan, karena ditakutkan terlambat boarding. Yah apa boleh buat, salah booking jadinya begini. Harus berpisah dini dengan kawan disana..

Saya sampai terlalu dini di bandara, kalau saya ikut ke Tahura, belum tentu bisa ke bandara tepat waktu. Tapi kalau saya di bandara terlalu dini, bete juga disini..

Tapi Allah menghendaki hal yang baik buat saya. Tiba-tiba saja ada seorang kakek yang menghampiri. Dia dengan akrab mengajak saya bicara. Percakapan pun terjalan lancar. Ia menceritakan asal-usulnya. Ternyata dia orang lombok yang sedang mengunjungi anak dan cucunya di Banjarmasin. Ia juga berbagi rahasia keberkahan dari orang tua. Katanya, kalo mau berkah dari orang tua, kita harus salam di dua muka tangan ibu. Tangan sebelah luar (punggung tangan) dan telapak tangan. Wah baru saya tau, akhirnya makin tertarik dengan obrolannya. Ia seperti orang yang hendak ditakdirkan Tuhan untuk memberi saya nasihat. Saya seperti sedang belajar darinya. Dan saya yakin, Tuhan bersama saya dan memberkahi perjalanan pulang saya.


Benar saja, perjalanan lancar dari Banjarmasin ke Jakarta lancar, saya kemudian naik Airport Shuttle bus Primajasa menuju bandung. Selepas di Bandung, mulai muncul masalah, uang saya habis tinggal meninggalkan 20 ribu di kantong. Saya tanya ongkos tukang ojek, dia menawarkan dengan harga 35 ribu. Taksi sudah pasti mahal, akhirnya saya putuskan buat berjalan keluar pull Primajasa di perumahan Batununggal menuju jalan bypass Soekarno Hatta Bandung untuk mencari angkot. Solusi terakhir transportasi. Eh baru aja 50 meter berjalan, Allah bantu saya dengan mendatangkan taksi, dia menyetujui dengan harga jasa 15 ribu saja. Dia bilang “Tak apalah, rezeki kecil jangan ditolak” Alhamdulillah, benar-benar perjalanan yang dipermudah..

2 comments :

  1. Saya suka penceritaan ini simpel tetapi cukup bagus kupasannys!

    ReplyDelete
  2. Pasti ad hikmahny dibalik semua itu ya mas.. tp ga jera kan ya berkunjung ke banjarmasin.? Andaikan saja wktu itu bs ikut ke tahura..

    ReplyDelete

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!