cookieChoices = {}; nyarinama: Community Empowering untuk Mengatasi Permasalahan Sampah di Bandung cookieChoices = {};

Community Empowering untuk Mengatasi Permasalahan Sampah di Bandung



Sampah merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan konsumtif yang tinggi di kota-kota besar. Kegiatan konsumsi berbagai macam produk dari mulai makanan, minuman, detergen, kosmetik hingga konsumsi besar. Dari kegiatan konsumsi tersebut pasti akan menghasilkan sampah sebagai sisa konsumsi. Baik itu produk maupun kemasan.

Kota Bandung sebagai kota metropolis baru tentunya akan sangat akrab dengan masalah sampah ini. Hal ini juga diperkuat dengan terjadinya beberapa kali penumpukan sampah yang ada di Bandung. Jadi masalah sampah ini adalah masalah yang nyata dan penting untuk dicarikan solusinya segera. Bukan hanya dengan mengalirkan sampah selancar-lancanya ke TPA, atau penambahan lokasi TPA, tapi bagaimana sampah ini bisa menjadi peluang baru bagi masyarakat untuk dapat dimanfaatkan dan menjadi kekuatan ekonomi mikro.

Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran saya untuk dapat menerapkan bank sampah di kota Bandung. Seperti yang kita tahu, Bandung dikenal dengan kota Kembangnya. Keindahan panorama kota berbalut kelestarian alam yang terjaga, belum lagi keramahan warga dan kebudayaannya. Hal itu harus kita jaga, jangan sampai dirusak oleh sampah.

Membangun kesadaran akan pentingnya mengelola sampah sangat diperlukan. Perlu adanya perubahan paradigm masyarakat terhadap sampah yang selama ini tidak berguna. Justru dengan gerakan Bank Sampah ini dapat Membangun Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan yang berprinsip From Trash To Cash”. Yaitu prinsip dasar pengelolaan sampah yang ramah lingkungan adalah harus diawali oleh perubahan cara kita memandang dan memperlakukan sampah. Sudah saatnya kita memandang sampah punya nilai guna dan manfaat sehingga tidak layak dibuang percuma.

Menteri Lingkungan Hidup Prof Balthasar Kambuaya mengatakan, Bank Sampah berhasil mengeruk keuntungan Rp 1,8 miliar per bulan. "Hal itu kalau dilihat dari sisi ekonominya. Tapi dengan adanya Bank Sampah itu, yang diutamakan, rakyat lebih peduli lingkungan, tidak lagi membuang sampah sembarangan dan bisa lebih sejahtera dari sampah,". "Jika hal ini diterapkan di semua daerah di Indonesia, warga akan sejahtera dari sampah,".

Saat ini, jumlah unit Bank Sampah di Indonesia ada 585 unit. Sementara itu, jumlah sampah yang dikelola di Bank Sampah adalah 1.366.9 ton per bulan. Total nilai transaksi jika dirupiahkan sebesar Rp 1,8 miliar per bulan," katanya.

Adalah Bank Sampah dengan nama Gemah Ripah yang menjadi pelopor Bank Sampah di Indonesia sekaligus pertama di dunia yang didirikan oleh masyarakat Dusun Bandegan, Bantul, DI Yogyakarta. Pada bank sampah, masyarakat menabung dalam bentuk sampah yang sudah dikelompokkan sesuai jenisnya. Mereka juga mendapatkan sejenis nomor rekening dan buku tabungan. Pada buku tabungan mereka tertera nilai Rupiah dari sampah yang sudah mereka tabung dan memang bisa ditarik dalam bentuk Rupiah (uang).

Bank sampah bekerjasama dengan pengepul barang-barang plastik, kardus dan lain-lain, untuk bisa merupiahkan tabungan sampah masyarakat. Juga dengan pengolah pupuk organik untuk menyalurkan sampah organik yang ditabungkan.

Sangat unik dan ide yang brilian

Ide Bank Sampah ini sangat sederhana dan memasyarakat. Semua orang dapat mengadopsi dan mengembangkan model-model pengelolaan sampah ini. Hal yang terpenting adalah, kekuatan pergerakan Bank Sampah ini ada di tangan masyarakat. Sehingga pemerintah tidak perlu repot menangani sampah.

Titik berat pengelolaan sampah pada masyarakat adalah sesuatu yang potensial. Jika dianalogikan Hitung kasar saja di Indonesia dengan 250 Juta penduduk kira-kita setara dengan 50 Juta KK, jika diasumsikan perharinya setiap KK menghasilkan dan membuang sampah rumah tangga rata-rata 2 Kg saja, maka setiap hari ada 100 Ribu Ton sampah di Indonesia ini. Seperti kita ketahui permasalahan sampah kadang-kadang memusingkan pemerintah dalam penanganannya.

Menteri Negara Lingkungan Hidup mengatakan, “Pelaksanaan bank sampah sesung­guhnya mengandung potensi ekonomi kerakyatan yang cukup tinggi karena kegiatan bank sampah dapat memberikan hasil nyata bagi masyarakat dalam bentuk peluang kerja, penghasilan tambahan bagi pegawai bank sampah dan masya­rakat penabung sampah. Istilah yang tepat menggambarkan manfaat sampah tersebut adalah from trash to cash”.

(diikutkan dalam kompetisi menulis #nuliseuy di bandungreview.com

0 Komentar:

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!