cookieChoices = {}; nyarinama: Belajar saja tidak cukup cookieChoices = {};

Belajar saja tidak cukup



Mahasiswa sebagai agent of change adalah tumpuan harapan bagi masyarakat untuk dapat melanjutkan estafet kepemimpinan di masa yang akan datang. Pendidikannya yang tinggi dan segala aktifitasnya yang keras, adalah indicator dalam proses pembelajaran kepemimpinan masa depan. Mahasiswa sebagai kalangan intelek yang hanya 5% di Indonesia menjadi sebuah tanggungjawab besar bagi kita untuk dapat bersumbangsih kepada masyarakat. 

Kita tentu tahu bahwa dinamika kehidupan seorang mahasiswa tidak jauh dari akademik dan organisasi. Dua hal inilah yang menjadi makanan sehari-hari bagi mahasiswa. Tanpa salahsatu diantaranya, seseorang belum berlabel ‘mahasiswa’. Karena mahasiswa lebih dari sekedar siswa. Tidak hanya belajar tapi juga mampu mengembangkan diri dalam kegiatan ekstra.

Kepentingan keduanya antara akademik dan organisasi juga sering diperdebatkan. Mana yang lebih penting antara akademik dan organisasi..? begitu kira-kira pertanyaan yang umum. Saya kira keduanya mempunyai peran masing-masing dan tidak ada yang lebih penting. Belajar, akademik atau apapun namanya, memberikan kita bekal dan ilmu agar kita dapat mengembangkan hidup. Dengannya, kita dapat menjadi lebih baik kehidupannya dan bisa melakukan banyak hal. Sedangkan organisasi merupakan aplikasi dari bekal yang kita punya. Berkumpul bersama, diskusi, berpolitik dan saling mengembangkan dalam komunitas. Hadirnya organisasi adalah fitrah manusia yang selalu ingin berkumpul, bergaul dan berusaha bersama. Dengannya, keterbatasan manusia bisa menjadi sebuah kemungkinan yang dapat diwujudkan bersama. 

Organisasi dapat dijalankan oleh seorang yang pintar dan cerdas. Mempunyai bekal keilmuan dan soft skill yang dapat mengendalikan banyak orang. Sedangkan belajar tidak akan bermanfaat jika kita tidak mengamalkannya. Belajar tidak akan sempurna jika kita tidak dapat mempraktekannya, bertemu langsung dengan permasalahan dan mengetahui solusi cerdas daripada hanya berdasar teori.

Jadi, semua saling bergantung dan penting. Tidak bisa seorang memimpin hanya dengan ketegasan dan karisma. Perlu isi otaknya dengan keilmuan agar orang lain yakin dengan dirinya. Sedangkan belajar terus menerus tidak juga baik. Perlu bersosialisasi, berkumpul dan bertukar pikiran. Perlu gerakan dan cita-cita. Tidak hanya mendengarkan dosen dan mengerjakan tugas. Saya yakin kalau hanya dengan itu, kita tidak akan berkembang..

Melihat itu semua, saya sebenarnya kurang setuju dengan adanya Semester Padat ala UPI. Sebagai kampus pendidikan, seharusnya dapat mengerti filosofi pendidikan secara mendalam. Bukan hanya masalah meluluskan mahasiswa sebanyak-banyak dengan waktu sesingkat-singkatnya. Untuk mendidik Dokter saja butuh waktu 6 tahun masa pendidikan. Waktu sebanyak itu bukan hanya untuk belajar semata, namun untuk dapat mengembangkan pribadi masing-masing menjadi lebih dewasa dan siap mental terjun ke Lapangan. 

Begitupun halnya dengan Produsen Guru nomor 1 di Indonesia ini. Perlu kesabaran dalam mendidik calon pendidik. Karena bangsa ini akan maju lewat pendidikan. Pemimpin bangsa ini diajarkan filosofi hidup oleh seorang guru. Maka jangan harap hal yang instan. Toh pada faktanya, Semester Padat malah merupakan beban bagi mahasiswa. Dalam waktu yang singkat harus menelan materi dan tugas-tugasnya yang seabreg. Tidak ada waktu untuk mengembangkan diri lebih luas. Beda halnya jika Semester Padat ini dipakai sebagai pengganti mata kuliah yang nilainya masih kurang memuaskan. Tentunya ada motif lain dan efek lain jika tujuan ini yang dikedepankan. Karena mahasiswa tentunya ingin yang terbaik.

0 Komentar:

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!