cookieChoices = {}; nyarinama: Cerita maribaya cookieChoices = {};

Cerita maribaya

Aku terbangun sekitar jam 3 pagi. Melihat tv hingga tertidur kembali dan terbangun lagi jam 5 lebih. Aku tergeliat dan segera mengambil air wudhu. Sesaat kemudian aku shalat. Aku terdiam dan melongo di depan kotak kaca digital itu. Teman-temanku pun telah terbangun dari peraduan.

Aku ditawari makan. Jadi aku lahap saja goreng kentang yang tersedia. Setelah itu aku pulang ke kostan ku (ketauan deh aku nginep di kostan temen. He..). Aku mengambil jalan pintas ke dalam kampus. Terlihat lalu lalang para mahasiswa yang mengejar waktu kuliah. Sementara aku sendiri tidak ada jadwal. Hanya saja, ada kegiatan lain yang lebih seru. Tur bareng anak sekelas. Ya, kita telah sepakat untuk mengadakan tur geografi ke wisata-wisata alam di sekitar bandung. Target pertama kita adalah kompleks air terjun maribaya.

Sesampainya di kostan, aku langsung mandi, berbaju dan berkaca. Setelah siap, langkahku berderap kembali menuju kampus. Disana telah menunggu teman-temanku sedari tadi. Aku telat. Setelah semua berkumpul dan sedikit cek-cok sana sini, akhirnya 4 motor dan 1 buah angkot meluncur menuju lembang. Aku sendiri bersama 4 motor tengah menunggu dengan manis. Setelah menunggu teman, kami berangkat.
Sampai pada lingkungan hijau, sejuk dan gemuruh air. Cek-cok kembali terjadi. Biasa lah selisih paham, semua orang berhak memberi pendapat, dan harus ada orang yang menengahi. Terlihat wajah temanku yang sudah kesal, diam saja, ikut-ikut bicara, sampai ngedumel di belakang. Yah tak apalah. Manusia.

Singkat cerita kami berjalan-jalan disana. Ada sebuah bangunan setelah jembatan, kita makan cemilan dan berfoto ria. Seseorang menggagas untuk menuju gua belanda yang terbentang 5 km nun jauh disana. Cek-cok terjadi lagi. Ini berkaitan dengan jadwal yang padat di sore hari. Tapi itu tak jadi halangan kami untuk berjalan menyusuri jalan batu setapak sepanjang 5 km itu. Perjalanan sungguh menyenangkan. Pohon-pohon berderet, gemuruh air tak henti, dan udara segar menghampiri. Kami bercengkrama sepanjang jalan itu. Dalam setengah perjalanan, sudah mulai anggota kita goyah. Mental mereka belum teruji hingga putus di tengah jalan.

Tapi perjalanan tetap harus diteruskan. Dan objek gua yang menjadi tujuan, akhirnya dapat kita lihat. Meski peluh, tapi kita jalani. Kita menyusuri lorong-lorong panjang itu ditemani senter dan guide yang berceloteh sepanjang kita di dalam.
Selesai melihat gua, ternyata ada warung. Kita makan makanan instan semisal mie dan lainnya. Cukup untuk menjadi bahan bakar pulang di 5 km jalan. Obrolan-obrolan singkat tetap menghiasi perjalanan. Sesekali terdengar nyanyian gak jelas dari seorang biduan kamar mandi. Haha.. Tak apalah, yang penting supaya anak-anak semangat dan tidak sepi. Krik.. Krik..

Singkat cerita, jalan 5 km itu kami lahap dengan hasil basah kuyup. Kami pulang dan menyisakan pegal-pegal juga kedinginan. Ini tur pertama kami dan cukup lancar. Setidaknya untuk awal masa perkenalan kita. Aku yakin, akan ada hal yang lebih menarik, menghentak, berkelok-kelok, naik turun, dan jalan terjal di depan. Jika itu jalanmu, tak usah takut melangkah. Jika kami takdirmu, terimalah. Aku dan dirimu satu, dan kita akan berjalan dalam satu arah dan satu tujuan..
Lestari bumiku..!

1 comment :

  1. HAHAHAHA,,,, nggak lengkap tuh ceritanya,,,,, soal yang "cew berkerudung berbaju gamis" gmn????? kok nggk diceritain???? hahaha

    ReplyDelete

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!