cookieChoices = {}; nyarinama: Pembangunan habis-habisan cookieChoices = {};

Pembangunan habis-habisan


Aku tinggal di Majalengka. Kota yang begitu sepi dari hiruk pikuk kota seperti biasanya. Beruntung, aku bisa menyenyam pendidikan lebih serius, namun ternyata dari adem ayemnya Majalengka, ternyata lama-lama sumpek juga. Tidak ada hiburan memadai di kota ini. Bahkan jalan yang ramai lalu lalang wanita hanya 1. Jalan K.H. Abdul Halim. Cukup. Selain itu, tak ada yang menarik dari wajah kota Majalengka sebagai ibukota Kabupaten Majalengka. Terbentang jalan lurus yang panjangnya kurang lebih 20 km, Majalengka hanya punya Yogya sebagai tempat shopping elit. Hanya memiliki 2 monumen dan jalan kecil dengan pemukiman penduduk. Tak ada gedung tingkat yang mencolok. Bangunan yang agak megah hanyalah Graha Sindangkasih dan Graha Pemuda.

Kini, setelah tampuk kepemimpinan daerah dipegang oleh Bapak H. Sutrisno, S.H, M.Si., Majalengka berubah wajah. Terlihat dari perbaikan sarana dan gedung-gedun pemerintahan. Yang jelas pertama terlihat adalah pemugaran cat di pendopo Kabupaten. Kemudian bergerak menuju Masjid Agung Al-Imam. Setelah itu selesai, mulailah pembangunan besar-besaran. Pelebaran jalan K.H. Abdul Halim.

Menyadari arti penting jalan utama itu, maka Bupati berpikira untuk segera memperlebar jalan utama. Jalan ibukota itu kini lebih rapi dan lebih lebar sekitar 2 meter. Pembangunan ini dimulai dengan perombakan monumen adipura di bundaran Cigasong. Monumen usang itu diganti dengan monumen buah Maja, buah khas Majalengka yang kini entah dimana. Monumen itu leih megah dan menjulang tinggi. Ditopang oleh 4 pilar panjang dengan dasar bundaran yang dihiasi oleh logo bank Jabar Banten.

Tingginya monumen itu konon menggangu pandangan pengendara, namun proyek telah selesai dan tak mungkin dibongkar kembali. Selanjutnya dari sepanjang bundaran hingga ke lapangan di depan pintu gerbang komplek Neglasari, jalan kecil itu diperlebar dan akhirnya menjadi rapi. Hingga tulisan ini dimuat (atau sekitar 4 bulan proyek berjalan) perbaikan terus dilakukan di sana sini.selain itu, rumah sakit daerah Majalengka yang berada di Jalan Kesehatan kini dirombak menjadi lebih megah.

Beralih ke arah paling barat dari ibukota, tugu selamat datang yang ada di perbatasan Jatipamor dan Munjul sekarang sudah dihancurkan. Entah diganti oleh apa. Kemudian proyek yang aneh dan menggemparkan adalah proyek bundaran munjul. Betapa tidak, bundaran munjul yang tadinya berupa tugu keluarga petani yang menggambarkan masyarakat Majalengka, kini diganti dengan patung ikan. Ikan..? ikan air tawar lebih tepatnya. Aneh, Majalengka tidak memiliki daerah perikanan. Bahkan dunia ternak ikan tak muncul di Majalengka. Tapi kenapa bisa dibangun tugu ikan.?

Usut punya usut, menurut sumber yang tidak terpercaya, tugu ikan itu berasal dari hobi sang Bupati memancing ikan. Bahkan dalam merayakan kemenangannya dalam pilkada Majalengka, sang Bupati terpilih itu merayakan dengan memancing bersama. Tapi tetap membuat kontroversi.

Tapi tahukah anda..? berkat tugu kontroversial itu, pandangan para pengendara tertuju pada patung itu. Sorot mata para pengendara tertuju jelas pada ikan terbesar yang sedang berdiri tegas ditemani ke 3 ikan kecil lainnya. Bundaran yang ukurannya 2 kali lebih besar dari sebelumnya ini telah menarik perhatian masyarakat sekitar. Masyarakat dengan antusias memperhatikan hari demi hari pembangunan tugu itu. Apa lagi yang menarik..? saya kira kehadiran pancuran di sepanjang tugu adalah daya tarik terbesar. Dengan air yang memancar dari keliling bundaran itulah tugu seolah hidup dan tak henti-hentinya memancarkan sesuatu agar kita menoleh padanya.

Tempat tugu yang bergeser lebih ke tengah juga memaksa pengguna jalan untuk berhadapan dengan ikan itu, jadi mau tidak mau kita akan disuguhi ikan tiap melewati jalan itu. Imbasnya, jalan disekitarnya mesti diperlebar. Tapi yang anehnya, tiang listrik dan telepon yang menjulang itu tidak dirubah tempatnya, sehingga aneh. Kok ada tiang listrik di tengah jalan..?

Well, setidaknya hingga saat ini, Majalengka lebih ramai pada kawasan-kawasan tertentu. Di bundaran Munjul misalnya, setiap sore hingga malam hari, banyak masyarakat sekiatr yang ingin menyaksikan si ikan dengan air mancurnya.

Setelah ini, kita tunggu terobosan apa lagi yang akan dibuat sang bupati...

4 comments :

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!