cookieChoices = {}; nyarinama: Pesan sederhana cookieChoices = {};

Pesan sederhana


Kepedulian kita terhadap lingkungan dipertanyakan ketika bumi kita makin rapuh dan peradaban manusia makin menjadi-jadi menggerus alam yang ada. Banyak usaha kecil yang kini digalakkan untuk mengurangi sedikitnya kerusakan alam. Hal ini memang baik bagi kita. Dari hal kecil, kita terbiasa dan akan terus merasa menjaga bumi ini untuk lestari lebih lama dengan tanpa kita sadari.

Program earth hour sudah menjadi budaya kini. Setiap tahun pada hari bumi, kita selalu merayakannya dengan mematikan lampu 1 jam saja. Dengan mematikan lampu dalam 1 jam, kita bisa menghemat daya listrik. Dengan mematikan lampu 1 jam, kita memberikan nafas baru untuk bumi kita. Beberapa kota besar di Negara-negara maju sudah melalukannya. Termasuk ibukota Jakarta.

Selain agenda besar dunia dalam pemanasan global, perubahan iklim dan upaya-upaya melestarikan lingkungan, ada sebuah cacat besar dalam masyarakat kita. Tentang kebiasaan yang justru bertolak belakang dalam upaya pelestarian lingkungan. Masyarakat kita sangat jorok dan kurang peka terhadap lingkungan.
Hal terkecil yang saya lihat adalah kurangnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Ini masalah sepele dan rasanya sudah basi bila kita mengangkatnya ke permukaan untuk kembali dibicarakan umum. Ini seperti mengajari anak TK. Sulit sekali untuk membiasakan hal sepele itu.

Memang kebiasaan itu tidak dipupuk sejak kecil. Tidak dibiasakan dan tidak menjadi fokus utama. Persoalannya ketika kita sedang makan atau minum, apalagi makan minum saat berjalan. Sedikit sekali tong sampah yang tersedia di jalan-jalan. Itu pernah saya alami ketika di kampus (UPI, Bandung) saya berjalan sambil makan cemilan. Ketika saya berjalan menuju kostan, tidak juga saya temui tong sampah untuk tempat pembuangan plastik bungkus makanan saya. Sekitar 500 meter, belum juga ada tempat sampah. Sampai akhirnya saya tiba di kostan, barulah saya bisa membuang sampah itu. Sebagai tempat sementara, saya taruh bungkus itu di samping tas saya. Ada semacam kantong kecil terbuka untuk tempat menaruh sesuatu. Atau kalau tidak, saku saya pun bisa jadi tempatnya.

Sekilas cerita saya telah membuktikan bahwa keberadaan tong sampah sebagai pengingat untuk buang sampah pada tempatnya pun sangat jarang. Makanya memang budaya buang sampah pada sembarang tempat tidak bisa kita salahkan sepenuhnya pada pelaku. Tapi pelaku (manusia), sebagai mahkluk yang berpikir harusnya dapat menumbuhkan rasa peduli itu dalam dirinya. Tidak asal buang saja. Taruhlah sampah dalam saku atau tempat kecil dalam tas anda. Membeli sesuatu tanpa tas plastik (kantong kresek) dan hematlah energy ketika di kostan. Hal-hal kecil itulah yang secara tidak sadar dapat member nafas baru pada dunia kita yang renta ini..

0 Komentar:

ayo, komentari apa yang telah anda baca..! berkomentar berarti telah ikut melestarikan budaya ngeblog. jangan sia-siakan waktu anda dengan berdiam diri.. berkaryalah dan menginspirasi orang lain..!